Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

UAS SEBENTAR LAGI

UAS hampir tiba, tgl 30 mei - 4 juni 2011, SDIT Al Uswah punya gawe UAS semester genap sekaligus menandakan tahun ajaran 2010-2011 akan berakhir. Anak-anak harus menyiapkan diri untuk mereview semua materi yang sudah didapat dengan kembali membuka-buka materi di semester 1. Yah..............semester ini, materi yang diuaskan adalah materi semester 1 dan 2 dengan komposisi yang cukup menakutkan (hi..hi..hi karena berarti belajar semester 1 juga banyak) yaitu 30% smt 1 dan 70% smt 2.
Matematika kelas 5 dengan 3 aspek yang diujikan yaitu Pemahaman Konsep, Penalaran dan Komunikasi, dan Pemecahan Masalah mendapat jatah total soal 90 soal ( 40 soal PK, 30 soal PKom, dan 20 soal PM). Untuk Pemahaman Konsep yang akan diujikan adalah 12 soal dari semester 1 dengan komposisi soal mudah, sedang dan sulit. Untuk Penalaran dan Komunikasi ada 9 soal dari semester 1, sedangkan soal Pemecahan masalah terdapat 6 soal semester 1 dengan komposisi yang sama.
Apalagi yang berubah di UAS kelas 5 kali ini? Anak-anak akan diajak berlatih dengan materi isian tanpa ada pilihan ganda kecuali pada soal Bahasa Arab dan Bahasa Jawa (mungkin).
Nah...anak-anak, sekarang mari kita gunakan waktu yang tersisa untuk fokus pada belajar. STOP bermain berlebihan, STOP nonton TV, STOP internetan dan main game, dan makan makanan yang bergizi agar stamina juga tetap terjaga dengan baik.
Tentunya di akhir semester ini semua orang menginginkan nilai yang terbaik baik itu siswanya maupun orangtuanya juga. Ibaratkan saja "Menyesal di akhir tiada guna" Tiada yang bisa kita lakukan bila sudah terjadi. Dan ..... kehidupan menjadi terasa sempit...
YUK................UAS SEBENTAR LAGI! SIAPKAN DARI DIRI KITA MENJADI YANG TERBAIK.............AMINNNNN

Sabtu, 21 Mei 2011

HIRARKIS SEBUAH KONSEP PADA PELAJARAN IPA

Pelajaran IPA adalah pelajaran yang menyenangkan kalau kita mampu menerapkan pembelajaran kepada siswa dengan konsep dan praktikum yang seimbang.
Pelajaran IPA dimulai dari kelas 1 SD dan akan terus diajarkan sampai tingkat SMA (jika kita memilih kelas IPA).
Materi yang diterima secara umum dari SD sampai SMA biasanya hampir sama.
Contoh : ketika mengajarkan tentang BENDA. Maka mulai kelas 1 SD sampai SMA pun akan mendapatkan materi dengan tema yang sama tetapi isinya semakin berkembang.
Untuk kelas 1 SD, siswa akan mengenal benda di sekitar berdasarkan bentuk dan ukuran secara sederhana.
Kelas 2, siswa akan mengenal benda berdasar wujud padat dan cair.
Kelas 3, siswa mengenal benda berdasar wujud yaitu padat, cair dan gas dengan beberapa sifat sederhananya.
Kelas 4, siswa juga belajar benda berdasar wujudnya dengan mengenalkan padat, cair dan gas. Materinya sama tetapi ciri-cirinya berkembang lebih luas lagi, karena siswa dikenalkan dengan beberapa sifat yang mencirikan wujud benda tertentu.
Kelas 5, siswa mengenal benda dan apa yang dialaminya ketika nerinteraksi dengan alam (pelapukan, perubahan bentuk benda, dll)
Dari sini bisa kita lihat, walaupun Kompetensi Dasar(KD)nya sama, tetapi indikator yang dipelajari tentu berbeda dan disesuaikan pila dengan kemampuan siswa menerima yang tentunya juga didasarkan pada usia mereka.
Sehingga, ketika ada program pemampatan materi dalam kelas, maka pelajaran IPA ini tidak bisa disederhanakan kemudian cukup diajarkan pada kelas tertenttu sebagai perwakilan dari beberapa KD yang sama.
Pelajaran tertentu pasti memiliki hirarki tersendiri dalam penjabaran yang harus diberikan kepada siswa. Mungkin akan lebih bijak apabila program yang akan diterapkan kepada siswa didiskusikan dan dianalisis lebih mendalam sebelum diterapkan kepada siswa.
Secara positip pasti ada banyak manfaat ketika seorang guru mampu menyatukan dan memampatkan sebuah KD/indikator yang harus diberikan kepada siswa. Karena dengan demikian tidak banyak waktu yang tersita ketika seorang guru cukup mengajarkan tema yang sama di beberapa bidang studi yang berbeda sehingga waktu tersebut dapat digunakan untuk pembelajaran yang lebih bermanfaat lainnya kepada siswa. Tetapi.....
Sudut pandang yang akan diberikan oleh guru dalam mengajarkan suatu materi tentunya akan terkotakkan pula pada bidang studinya. Contohnya ketika seorang guru mengajarkan lingkungan sehat di pelajaran IPS dan pelajaran Agama Islam tentu sudutpandangnya akan berbeda sesuai dengan lingkup mana materi itu dimasukkan.
Mungkin bila itu terjadi, maka untuk mengintegralkan materi itu disesuaikan dengan bidang studinya, maka dapat dikembangkan dengan menjabarkan indikatornya.
Indikator akan menjadi acuan seorang guru untuk mengajarkan suatu materi berdasarkan kalimat yang dituliskan pada indikator tersebut.
Nah....bagaimana dengan pelajaran IPA? Secara nalar, hirarki sebuah konsep itu tidak dapat diputus di jalan, atau digabung dengan menghilangkan sebagian dan memunculkan sebagian yang lain karena hal tersebut akan menghilangkan ketersambungan materi dipandang dari peningkatan pemahaman siswa dalam menerima sebuah konsep.

Mengajarkan konsep matematika di SD

Bila kita anak-anak SD? "Pelajaran apa yang paling sulit?" Mayoritas mereka mengatakan Matematika. Mengapa? Padahal, ketika ada UNAS kelas 6, ternyata bidang studi tersulit saat UNAS, bukanlah matematika, karena soalnya jelas dan SKLnya mudah ditebak.
Mudah tidaknya pelajaran matematika atau pelajaran lainnya, tergantung dari bagaimana guru itu mengajarkannya pada murid.
Oleh karena itu, bagi seorang guru matematika (dan pelajaran lainnya) syarat mutlak untuk mengajar adalah kompetensi pada bidang studi yang diajarkan.
Oleh karena itu, seringkali ketika kami berkumpul dengan beberapa teman yang mengajar dengan bidang studi yang sama, konsep dasar mengajar sering menjadi bahan pokok pembicaraan.  Sehingga muncul juga beberapa celetukan dari beberapa teman ketika ada info salah seorang guru harus pindah  tempat mengajar (wah...diskusi matematika dengan siapa lagi?).
Memang... gampang-gampang susah mengajar matematika pada anak SD.  Ketika kami sempat diskusi dengan beberapa guru, (maaf) ternyata kami memang butuh sarana untuk diskusi cara mengajarkan konsep matematika sesuai dengan usia mereka.
Contoh ketika mengajarkan cara perkalian dan pembagian bersusun, harusnya ada tahapan yang dilalui oleh seorang guru agar anak tidak hanya mengikuti rumus guru tanpa tahu alasannya bagaimana rumus itu sudah muncul. Perkalian susun panjang dan pendek itu adalah tahapan mengajarkan konsep kepada anak, tidak bisa kita meloncati satu tahapan dan langsung mengajarkan konsep tanpa mengajarkan tahapannya.
Demikian juga ketika kita mengajarkan pembagian bersusun.pendek, tentunya kita harus mengajarkan pembagian susun panjang terlebih dahulu. Mengapa? karena seorang anak tidak hanya butuh dapatt mengerjakan soal tetapi juga harus bisa memahami materi tersebut.  Kita harapkan dengan runtutnya materi yang kita berikan kepada siswa, mereka menjadi kritis dan memunculkan nalar berpikir karena dasarnya sudah jelas buat mereka.
Maka, SEBUAH KEHARUSAN SEORANG GURU MATEMATIKA MEMAHAMI KONSEP MATEMATIKA YANG BENAR dan mampu mengajarkannya kepada siswa.  Karena matematika adalah konsep yang bersifat hirarkis, artinya konsepnya secara bertahap diberikan kepada siswa tanpa dapat dihilangkan sebagiannya, karena ditakutkan akan ada yang hilang dari konsep yang dimiliki siswa tersebut.
Contoh sederhana ketika kami sempat diskusi tentang materi menghitung luasan bangun datar.  Ternyata ada satu konsep yang hilang yang menurutnya tidak perlu diajarkan karena tidak ada indikatornya, yaitu bagaimana menghitung luas bangun datar yang mempunyai bentuk tidak teratur dengan menggunakan satuan petak.  Padahal konsep itu ternyata tidak akan dijumpai lagi oleh siswa ketika belajar di kelas lanjutan/atasnya.  Tetapi konsep ini sangat penting dimiliki oleh siswa sebagai pengetahuan umum.
Takutnya, sebuah ironi, ketika siswa kita ditanya bagaimana menghhitung luas sebuah gambar daun dengan mengguunakan satuan petak dan... mereka tidak bisa menjawabnya, dan menjelaskan kalau tidak bisa karena tidak pernah diajarkan.
maka..... marilah kita tingkatkan pemahaman dasar kita tentang pelajaran yang menjadi amanah kita.  Dan mungkin bisa menjadi renungan kita bersama..... perlunya pembahasan yang serius tentang kompetensi dasar seorang guru, sebelum mereka mendapatkan amanah.  Dan dengan adanya MGMP bidang studi bisa menjadi solusi apabila ada pembimbing yang mampu mengajak guru-guru yang sebidang studi menjadi lebih bermanfaat terhadap semuanya.



 YESS .....SEMOGA BERMANFAAT

Kamis, 19 Mei 2011

KAYA IDE DENGAN MATEMATIKA

Kita sebagai guru tentu mengharapkan siswa/anak didik kita menjadi pembelajar yang aktif yang kaya akan ide-ide membangun untuk masa depan mereka.
Kita sebgai guru mengharapkan bahwa dengan proses pembelajaran yang kita berikan akan menghasilkan generasi masa depan yang tidak hanya pintar secara teori tetapi juga mampu mencetuskan ide-ide brilian dalam menyelesaikan permasalahan umat.
Generasi kreatif tidak bisa dibentuk secara instan. Tidak bisa serta merta seorang anak menjadi hebat karena seketika itu juga belajarnya.  Tetapi membutuhkan proses yang panjang dan penuh liku untuk memunculkan jiwa-jiwa penuh kreatif tersebut.
Bisakah dengan pelajaran MATEMATIKA membuat seorang anak menjadi terbiasa berpikir kritis.  Menurut Dr Sutarto Hadi M.Sc. dari Unlam Banjarmasin memberikan contoh pendekatan yang dapat dilakukan guru untuk mendorong siswa mengemukakan ide dan gagasannya.
(1) Memulai pelajaran dengan memberikan permasalahan yang bermakna yang mendorong keingintahuan siswa atau menantang siswa untuk berpikir. Soal yang diberikan akan lebih baik dalam bentuk pemecahan masalah dan sesuai dengan taraf berpikir siswa.
Kadang-kadang guru yang kurang persiapan membuat soal yang sudah ada di buku paket atau LKS tanpa mengedit terlebih dahulu. Atau ketika memberikan soal ke siswa terkesan kurang bersemangat sehingga siswa pun mengerjakannya dengan monoton.
Bagi guru kelas bawah yang mengajarkan matematika dengan tematik, problem yang diberikan dalam kelas bisa lebih bervariasi disesuaikan dengan tema yang ada.  Dan ini lebih mudah menjadikan tema sentral sebagai permasalahan di dalam kelas.
Masalahnya bagi seorang guru adalah ketika kesulitan mengarahkan siswa menyelesaikan permasalahan yang muncul sesuai dengan materi yang akan dibahas atau yang sering kami jumpai adalah kesulitan menanamkan konsep kepada siswa sesuai dengan taraf berpikir siswa tetapi terkesan tidak mendikte.

(2) Mintalah siswa untuk membuat kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4 atau 5 orang dalam setiap kelompok, dan berdiskusi menyelesaikan soal yang diberikan.
Dengan model pembelajaran kooperatif yang bermacam-macam, siswa semakin banyak mengenal karakter teman-teman dalam kelompoknya dan semakin memahami cara memberikan usulan-usulan dalam menyelesaikan masalah.
Ada beberapa metode pembelajaran kooperatif yang kita kenal diantaranya : Jigsaw, TGT, STAD dll

(3) Setiap kelompok menampilkan hasil pekerjaannya dalam bentuk poster dan dipajang di dinding kelas agar lebih mudah dibaca/dipelajari oleh siswa lain.
di sini siswa belajar mengkomunikasikan pendapat dan jawaban melalui bentuk lain.  Bisa poster, tulisan yang dipajang di kelas.  Di sini kita juga belajar menjelaskan kepada siswa lain agar siswa lain dapat memahami apa yang menjadi pikiran orang lain.
 
(4) Berikan kesempatan pada kelompok-kelompok untuk menjelaskan gagasannya pada seluruh kelas secara lisan.
Siswa belajar menghargai pendapat orang lain.  Karakter ini harus dibentuk dari kecil, agar akhlaq yang baik ini tidak luntur dari generasi kita, karena sekarang ada kecenderungan anak-anak tidak menghargai orang yang sedang berbicara.
Semoga dengan masukan ini, seorang guru bisa menerapkan model pembelajaran kaya ide ini di pelajaran matematika, baik dari kelas 1- 6.
semoga bermanfaat.

Modal amal matematika ala PMRI

Matematika itu gampang!
matematika itu menyenangkan!
matematika itu ndak sulit!
matematika membuat hidup jadi lebih hidup!
 Apa ya PMRI ? PMRI yaitu Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia yang secara konkret mengajak siswa belajar matematika tidak hanya dengan menyuapi saja konsep dan rumus kepada siswa.
Dalam PMRI, siswa diajak mengetahui alasan yang pasti mengapa mereka menjawab dengan jawaban yang bertanggungjawab dan ada alasan.  Matematika membuat anak mengerti secara nalar sebuah proses yang harus mereka kerjakan, bukan hanya mereka hanya tahu bahwa "saya menjawab ini karena rumusnya ini" tetapi " saya menjawab ini karena alasannya begini....."
Dalam model PMRI ini, guru hanya sekedar mediator bagi siswa.  Sebagai seorang mediator, guru menempatkan ide-ide siswa ke dalam konteks pelajaran, menghubungan pemikiran-pemikiran yang muncul satu dengan lainnya, dan membantu siswa memformulasikan dan merealisasikan ide-ide mereka.
Artinya : Guru tidak hanya mengajarkan rumus-rumus kepada siswa sementara siswa hanya menghafal dan menuliskan kembali dalam buku catatannya tanpa memahami apa maksud gurunya.  Sehingga ketika suatu materi memerlukan pengembangan rumusannya, siswa kebingungan.  Contoh : Ketika seorang guru mengajarkan pengukuran dengan satuan baku (cm) untuk kelas 2, seorang guru tidak perlu sampai mendoktrin siswa cara mengukur dengan benar, biarkan merek mengeksplornya dengan beberapa kasus yang kita berikan. Guru perlu memberikan alat peraga satuan cm dan m, kemudian mengajak siswa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari (mengukur benda di sekitarnya, membandingkan antara satuan cm dan m, mengenal satuan m melalui cm, dan menggunakan alat yang ukurannya tidak dimulai dari nol/penggaris putus bagaimanakah digunakan untuk mengukur).  Setelah dikembangkan nalar siswa maka perlu diarahkan pada satu konsep yang benar yang berasal dari rumusan siswa baik individu maupun kelompok dan dijadikan konsep bersama.
Selain itu, nilai positip yang bisa diambil dari metode PMRI ini adalah menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa melalui presentasi yang rutin dijadwalkan secara bergilir untuk siswa mempertahankan jawaban yang diberikan.  dengan demikian siswa terbiasa dalam komunikasi ilmiah di dalam kelas dan belajar menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang dicontohkan oleh guru ketika menampung semua jawaban siswa dengan cara yang baik.
Mengapa disebut Modal Amal? ya...disinilah kerja kkeras seorang guru dibutuhkan.  Tidak gampang menjadikan siswa menjadi sentral belajar, karena selama ini yang sering kita dapatkan dalam proses mengajar di kelas adalah guru sebagai sentral ilmu, semua ilmu dari guru, semua rumus dari guru dan semua keputusan dari guru. 
Semoga sedikit kupasan ini membuat kita berpikir positip untuk masa depan matematika anak-anak kita, khususnya di SDIT Al Uswah.  Sudahkah konsep matematikanya tersusun dengan baik? dibawa kemanakah pembelajaran matematika di sekolah?

Jumat, 13 Mei 2011

HORE...... UNAS SUDAH BERAKHIR

Alhamdulillah, UNAS SD sudah selesai, anak-anak seolah merasa bebas dari belenggu kesibukan selama setahun untuk mempersiapkan menjadi yang terbaik. 
Terbaik? yah..... terbaik dari segalanya.  Kepandaian, kejujuran, semangat dan motivasinya.  Seorang anak yang dituntut untuk mendapat nilai terbaik akan berusaha untuk belajar dengan sungguh-sungguh.  Apalagi jika kita menekankan pada kejujuran dan percaya kemampuan diri sendiri.  UNAS memang bukan segala-galanya tapi apa salahnya jika dari UNAS tersebut kita mengajarkan pengalaman hidup dari banyak hal.  Kompetisi hidup bisa dikenalkan dengan cara berkompetisi lewat pelajaran UNAS.  Kejujuran bisa dikenalkan lewat pengenalan aturan dilarang mencontek.  Menghargai orang lain juga bisa dikenalkan lewat pengakuan dan sikap sportif terhadap kemampuan siswa lain. Siapa bilang UNAS tidak penting?
Nah...sebagai guru yang baik, tanggungjawab UNAS harusnya bukan hanya dipundak guru kelas 6 saja memang.  Semua guru yang mengajar dari kelas 1 - 6 mempunyai kontribusi yang besar juga dalam menanamkan keberhasilan anak didik di UNAS mereka.
Persiapan menumbuhkan keberanian untuk menghadapi UNAS di kelas 5.
BRAVO UNAS

Rabu, 04 Mei 2011

MODALITAS BELAJAR

MODALITAS BELAJAR
(Cara tercepat otak untuk menyerap informasi)

V I S U A L
 (Belajar dengan cara Melihat)

Ciri visual
·        Rapi dan Teratur
·        Berbicara dengan cepat
·        Teliti terhadap detail
·        Mementingkan penampilan
·        Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar
·        Mengingat dengan asosiasi visual
·        Biasanya tidak terganggu dengan keributan
·        Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal, kecuali ditulis, sering  minta bantuan orang lain untuk mengulanginya
·        Pembaca cepat dan tekun
·        Mencoret-coret ketika bicara di telpon;
·        Biasanya berbicara dengan cepat (alias cerewet)
·        Lebih suka melihat peta daripada mendengarkan penjelasan
·        Membutuhkan tujuan dan pandangan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau kegiatan
·        Mencoret - coret tanpa arti selama berbicara di telpon atau ketika mengikuti pelajaran
·        Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “Ya” atau “Tidak”
·        Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
·        Lebih suka seni daripada musik
·        Seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata
·        Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan










AUDITORIAL
(Belajar dengan cara mendengar)




Ciri Auditorial
§  Berbicara pada diri sendiri ketika bekerja
§  Mudah terganggu oleh keributan
§  Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan ketika membaca
§  Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
§  Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama dan warna suara
§  Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
§  Berbicara dalam irama yang terpola
§  Biasanya pembicara yang fasih
§  Lebih suka musik daripada seni
§  Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
§  Suka berbicara
§  Suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
§  Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
§  Lebih suka gurauan  lisan daripada membaca komik

KINESTETIK
(Belajar dengan bergerak dan menyentuh)

Ciri Kinestetik
§  Menanggapi perhatian fisik
§  Menyentuh orang untuk mendapat perhatian mereka
§  Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
§  Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
§  Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar.
§  Belajar melalui manipulasi dan praktek.
§  Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
§  Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.
§  Banyak menggunakan isyarat tubuh.
§  Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama.
§  Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu.
§  Mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca.
§  Memiliki tulisan yang jelek.
§  Ingin melakukan segala sesuatu.
§  Menyukai permainan yang menyibukkan.

MODEL BELAJAR ANAK

Anak-anak kita mempunyai beberapa cara dalam belajar, dalam dunia pendidikan dikenal dengan 3 cara yaitu model Visual, Audio dan Kinestetis yang disingkat VAK.  Pada umumnya ketiga-tiganya hampir dimiliki oleh setiap anak, tetapi model belajar manakah yang lebih dominan mereka bisa menerima ilmu lebih optimal, itu yang perlu kita ketahui agar anak-anak kita bisa nikmat belajar dan ilmu ang diserap juga semakin banyak.  Mengapa? karena jika seorang anak dipaksa untuk belajar secara visual tetapi dia sendiri lebih bisa menyerap suatu ilmu dengan model Audio, maka akan membuat seorang anak menjadi susah untuk menyerap ilmu tersebut.  Contohnya ketika seorang guru mengajar pelajaran IPA materi struktur bumi secara Audio (banyak menerangkan) sementara ada beberapa anak yang bisa mengetahui struktur bumi kalau digambarkan (visual), maka anak yang visual tersebut tidak malah mengerti tetapi semakin bingung, demikian sebaliknya.
Bagaimanakah untuk mengetahui model belajar anak kita? C